Kepala SMAN 2 Tamsel ‘Berbohong’, Lakukan Pungutan 2 Juta/Siswa

Kepala SMAN 2 Tamsel ‘Berbohong’, Lakukan Pungutan 2 Juta/Siswa

Bekasi, PostKeadilan – Kepala SMAN 2 Tambun Selatan (Tamsel) H.Muhammad Nurdin S.Pd,MM bohongi wartawan, pasalnya, Nurdin yang menjanjikan bersedia bertemu awak media ini pada hari Senin (24/7/2017) ternyata ingkar. (Baca: Carut Marut PPDB Jabar, Ombudsman RI Angkat Bicara. Di SMAN 2 Tamsel, Ada Siswa Berprestasi Tak Diterima?)
“Hari Senin kita klarifikasi, saya hadir,” ucap Nurdin kepada awak media ini di ruang TU SMAN 2 Tamsel, Jumat (21/7/2017).
Ntah bagaimana, Nurdin ‘celetuk bahwa di sekolah yang dia pimpin itu tidak lagi lakukan pungutan seperti tahun lalu yang ‘berani lakukan pungutan Rp. 7,5 juta / siswa. “Kami tidak ada lakukan pungutan apa pun. Kalau ada, catat dan laporkan ke saya,” ujarnya.
Diterangkan bahwa sudah berulang kali PostKeadilan berusaha ketemu Nurdin untuk memberi klarifikasi terkait adanya siswa berprestasi yang tidak diterima sekolah yang dia pimpin, Nurdin janji ketemu Senin (24/7/2017). “Senin kita ketemu, tanya pak Yusfi jam berapa,” imbuhnya.
Hal adanya siswa dalam kasus yang sama, namanya tidak tercantum dalam jalur prestasi seleksi penerimaan yang di Online (kini data online tersebut tak dapat dibuka kembali) kan, Nurdin tetap bersikukuh hari Senin akan menerangkan semuanya. “Saya janji, Senin kita ketemu,” putusnya.
Senin (24/7/2017) pagi, sesuai janji Nurdin, ternyata Nurdin tidak masuk sekolah. “Pak Nurdin hari ini tidak masuk, jam 1 saja abang ke mari lagi,” kata Yusfi, bendahara SMAN 2 Tamsel ini kepada Tim PostKeadilan.
Dipertanyakan apakah jam 1 nanti Nurdin ada, Yusfi menjawab tidak ada. “Bapak lagi rapat, nanti ketemu sama panitia jalur prestasi,” jelas Yusfi tanpa memberi tahu Nurdin rapat dimana.
Senin (24/7/2017) siangnya, tak satu pun pihak SMAN 2 bersedia di temui untuk memberi penjelasan. “Pada pergi pak..Bapak pergi, selang berapa waktu, wakil kepala sekolah, humas dan pak Yusfi pergi,” ujar pegawai TU SMAN 2 Tamsel yang piket saat itu.
Diberitahu via sms kepada Yusfi bahwa tak satupun pihak sekolah menemui Tim PostKeadilan untuk memberi keterangan, Yusfi tak beri jawaban.
Di halaman parkir sekolah, terlihat sepasang suami istri yang merupakan orang tua siswa baru bermimik wajah sedih. Mereka keluhkan tentang pungutan yang dibebankan kepada orang tua siswa. “Ini kami baru bayar 2 juta. Kwintasinya hanya begini,” ujar bapak paru baya ini memperlihatkan sepotong kertas berstempel koperasi guru dan ditandatangani penerima, Imas R, Senin (24/7/2017) siang.
Lanjut bapak ini, dikatakan ada lagi pungutan semacam spp Rp. 300 ribu/bulan. “Tolong bang dipertanyakan kenapa demikian. Katanya sekolah gratis, ini kok malah bayar semua,” pungkas sang suami enggan sebut nama demi takut anaknya mendapat masalah dari pihak sekolah dikemudian hari.
Diminta kepada Nurdin agar bersedia ditemui untuk memberi penjelasan melalui sms ke nomor HP milik Yusfi, hingga pemberitaan tidak ada jawaban.. Bersambung…………….. Simare/ Tim

banner 468x60 banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Tinggalkan Balasan