Wartawan Di Keroyok. Sejumlah Pimpinan Sosial Kontrol Prihatin, Minta Proses Hukum Yang Tegas

Bekasi, PostKeadilan – Kejadian penganiayaan dan pengeroyokan yang dialami Pimpinan Redaksi (Pimred) PostKeadilan, Simare panggilan akrab K.I. Simaremare di House Music (HM) New Unggul Cafe (NUC) di Jalan Inspeksi Kali Malang Desa Tambun Kecamatan Tambun Selatan Kabupaten, Minggu (31/12/2017), sejumlah pimpinan social control prihatin dan siap mengawal proses hukum nya.

Hal ini diutarakan Ketua Umum NCW (Nasional Corruption Watch), Drs. Syaiful Nazar, Ketua Umum AMPHIBI (Aliansi Masyarakat Pemerhati Lingkungan Hidup & B3 Indonesia) Agus Salim Tanjung, So,si, Ketua Umum MAPAN (Masyarakat Perduli Anti Narkoba), PSF Parulian H, Ketua Presidum FPII (Forum Pers Independent Indonesia), Kasihhati dan  Ketua Harian NCW, Alex Pang beserta jajarannya pada pertemuan di KanPus AMPHIBI – YASOS BKS, Bekasi Timur, Minggu (31/12/2017) malam.

Walau tidak dapat hadir karena sedang mengawal kasus (Kasus Pemerkosaan Anak Dibawah Umur) lain, Kasihhati sebut dukungan pertemuan itu. “Karena saya belum bisa gabung hari ini, saya dorong melalui pemberitaan dulu,” sms dia via WA, Minggu (31/12/2017) siang. Hal ini terbukti karena Minggu (31/12/2017) sore, berita kejadian diatas dapat dibaca di sejumlah Media Online.

Diantaranya, sinarrayanews.com: Nasib Wartawan” Mau Liputan, Malah Dikeroyok, koranlibasnews.com: LAGI DAN LAGI, WARTAWAN MENJADI KORBAN KEKERASAN, mediapurnapolri.net: Nasib Wartawan” Mau Liputan,Malah Di Keroyok!!, beritacakrawala: ‘Nasib Wartawan” Mau Liputan, Malah Dikeroyok!! dan 86news.co: Kekerasan Terhadap Wartawan Kembali Terjadi Di Kabupaten Bekasi, serta media lainnya.

Ketum NCW, Syaiful Nazar dalam pertemuan mengatakan sangat menyesalkan tindakan yang dilakukan para pelaku. “Selaku pengaman seharusnya mereka (pelaku yang diduga oknum pengaman HM NUC) mengamankan, bukan berlaku arogan seperti itu. Apa lagi pake-peke ‘setrum’ segala,” ujar Syaiful bernada sedih.

Menanggapi pemilik HM NUC, Sabaranto Sitorus yang disinyalir gunakan ‘backup dari sejumlah oknum TNI dan Kepolisian sekitar untuk memperlancar usaha Tempat Hiburan Malam (THM) nya, raut wajah Syaiful berubah marah. “Ngapain mereka (oknum TNI atau oknum Polisi yang diduga ikut membackup keamanan NUC) ada disitu.? Tugas mereka mengamankan masyarakat, melindungi rakyat. Mereka digaji rakyat, bukan untuk melindungi pengusaha-pengusaha kafe. Kalau ada yang terlibat, kita ajukan kepada pimpinan TNI dan POLRI, biar diproses segera. Itu jelas saya katakan. Kita lihat saja,” pungkas dia.

Senada dengan Syaiful, Ketum AMPHIBI Agus pun perihatin dengan kejadian yang dialami Simare. “Perda Nomor 3 Tahun 2016 tentang Larangan Tempat Hiburan Malam (THM) sudah ada dan sudah di sah kan tahun 2016 lalu. Sabaranto sebagai mantan anggota dewan mengapa tidak mengindahkan.? Pak Simare sebagai wartawan, Pimpinan Redaksi yang lakukan investigasi, karena lakukan pemotretan, kenapa dilarang dan dipukuli.? Ini jelas-jelas menyepelekan wartawan sebagai social control,” beber Agus.

“Saya sebagai Ketua Umum AMPHIBI dan Yayasan Sosial BKS, siap dan akan terus mengawal penegakan hukum yang dialami saudara saya Simare ini. Hukum harus ditegakkan seadil-adilnya agar tidak lagi terjadi terhadap teman-teman wartawan,” tegas admin Grup WA AMPHIBI dan Yasos BKS yang diikuti Menkomaritim Jendral Luhut Panjaitan dan petinggi-petinggi pemerintah lainnya itu.

Sedemikian Ketum MAPAN, Parulian menyayangkan kejadian. “Jangan-jangan memang benar ada transaksi narkoba. Mengapa pihak keamanan begitu marah sama teman kita Simare.? Kami dari pihak MAPAN juga akan telusuri kebenaran kejadian. Dan kami akan minta BNN (Badan Narkotika Nasional) sebagai mitra, agar lakukan rajia di setiap tempat hiburan malam Bekasi,” ucap Parulian.

“Saya juga dapat info, setiap ada rajia, House Music NUC ini tak pernah kena rajia. Kejadian kekerasan yang dialami Pimred Simare ini, semoga moment, pintu masuk penegak hukum Badan Narkotika dari Pusat untuk dapat mengetahui kenapa demikian.? Kita tidak mau ada kafe yang kebal hukum, semua sama,” tegas koordinator GPPM (Gabungan Pemuda Pelajar Mahasiswa) GIBAS (Gabungan Inisiatif Barisan Anak Siliwangi) di pertemuan.

Dilanjutkan bung Alex Pang, mengungkap hal-hal perizinan yang dimiliki HM NUC. “Saya tahu betul tidak ada perijinan yang dikantongi House Music NUC, dalam hal penjualan minuman keras dan perijinan lainnya. Semua bersifat ‘koordinasi’ ke oknum aparat,” tuding Alex.

Alex juga mengkritisi Standart Operasional Prosedur (SOP) pengamanan. “Management pengamanan NUC itu juga tidak memenuhi standart,” imbuhnya.

Ketua dimasa adanya Forum Pimred Bekasi ini mengatakan paham karakter Sabaranto yang terkesan sombong. “Ya mentang-mentang banyak uang, dia dengan mudah ‘mengaturnya. Cerita ini sudah santerlah dikalangan media Bekasi. Seperti kata Ketum MAPAN tadi, ada rajia, kafe dia (Sabaranto) tidak ‘kena. Kalau benar-benar aparat mau menegakkan hukum, ya tegakkanlah dengan benar. Jangan setengah-setengah,” harap Alex.

Seperti diketahui, adanya informasi yang diperoleh dari masyarakat tentang dugaan peredaran Narkoba di House Music NUC. Sebelum pemberitaan, Simare sebagai Pimpinan Redaksi lakukan investigasi langsung. “Saya dapat informasi kalau NUC itu selalu ramai dikunjungi. Isu beredar, ada transaksi narkoba berbentuk cairan dan atau sebagainya lah. Setahu saya NUC ini sebelumnya bernama Unggul PUB. Belakangan hari sepi. Sabaranto sebagai pemilik merubahnya menjadi House Music. Baru sekitar 3 bulan kayaknya,” terang Simare.

“Kalau saya langsung beritakan tanpa ada bukti konkret, kan tidak etis. Saya lakukan kunjungan beberapa kali, sampai saya kenalan bernama Ali yang mengaku koordinator keamanan NUC beberapa hari sebelum kejadian pemukulan terhadap saya. Saya perkenalkan diri dan kami sempat tukar nomor HP,” lanjut dia.

Pertemuan berikutnya, Minggu (31/12/2017) subuh sekitar pukul 1.00 WIB, ketika mau masuk Simare diminta membayar tiket masuk oleh pengaman pintu masuk. Padahal setiap kunjungan Simare tak pernah dimintai begitu. Selang semenit, hadir Ali mempertegas agar bayar. Namun ketika masuk begitu saja teman yang dikenal Simare, Ginting dan Bayu, dimana Simare langsung diajak ikut masuk, Ali terdiam.

Pasca perdebatan pintu masuk, diduga ada oknum pengaman NUC mengikuti dan memfoto Simare dari belakang dan samping. Naluri seorang jurnalis pun dilakukan Simare dengan memfoto kembali orang tersebut dan dilanjutkan dengan memfoto kejadian yang ada didalam. Entah bagaimana, diduga pihak pengaman NUC berseragam hitam-hitam dan sejumlah pria bertubuh kekar mendorong, memukul dan mencoba merampas HP milik Simare yang digunakan untuk memfoto.

Sontak Ginting dan Bayu melerai, namun naas, mereka juga turut kena bogem dan diusir keluar. Tak cukup begitu, sekitar pukul 1.30 WIB dilapang parkir NUC, Bayu dan Ginting dihajar habis. Tak kuasa melihat demikian, Simare coba melerai pun turut menjadi bulan-bulanan hingga terkapar tiada daya.

Sebelum terkapar, Simare melihat dugaan oknum Polisi dan atau TNI mengancam dengan senjata pistol yang diselipkan di pinggang. ”saya tembak kamu ya”, ujar Simare menirukan ucapan oknun itu saat terjadi pengeroyokan tersebut.

Sekuat tenaga Simare bangkit, dan langsung melaporkan kejadian itu ke Polsek Tambun dengan LP nomor : B/483-tb/STPL-1/XII/2017/Polsek Tambun. Sampai berita ini dilansir, keadaan Simare masih lemah, dan pihak NUC belum ada yang mau memberi klarifikasi. Bersambung………………………………………………Tim

banner 468x60 banner 468x60 banner 468x60

Berlangganan

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

635 Responses