BEKASI, POSTKEADILAN — Aktivitas belajar mengajar di SDN Sukajadi 03, Kampung Gili-gili, Desa Sukajadi, Kecamatan Sukakarya, Kabupaten Bekasi, tetap berlangsung meski sejumlah bagian bangunan sekolah mengalami kerusakan.
Kondisi paling mencolok terlihat di ruang kelas 6. Salah satu bagian dinding telah berlubang cukup besar hingga bagian luar sekolah dapat terlihat dari dalam ruang kelas. Kerusakan juga tampak pada sejumlah bagian lainnya, mulai dari lantai yang retak, plafon berlubang, hingga permukaan dinding yang mengelupas.
Di tengah kondisi tersebut, para siswa tetap mengikuti kegiatan belajar seperti biasa.
Mereka duduk di bangku masing-masing, membaca buku dan mengerjakan tugas di ruang kelas yang sebagian dindingnya sudah tidak utuh.
Siswa Khawatir Saat Belajar
Silvia (12), siswi kelas 6, mengaku kondisi ruang kelas tersebut sudah berlangsung cukup lama. Meski tetap mengikuti pelajaran, ia mengaku merasa khawatir ketika berada di dalam kelas.
Ia terutama takut bagian bangunan yang rusak tiba-tiba roboh ketika kegiatan belajar berlangsung.
“ Saya takut bagian atasnya tiba-tiba roboh. Pernah juga lagi menulis, tiba-tiba roboh. Sebenarnya enggak nyaman belajar dalam kondisi seperti ini,” ujar Silvia.
Selain persoalan keamanan, dinding yang terbuka juga membuat debu dari luar lebih mudah masuk ke dalam kelas. Posisi sekolah yang berdekatan dengan area persawahan turut membuat kondisi tersebut semakin terasa bagi para siswa.
Saat hujan turun, air juga disebut dapat masuk ke ruang kelas melalui bagian bangunan yang terbuka.
“Debunya jadi gampang keluar masuk. Kalau hujan, air tampiasnya juga kecipratan ke dalam kelas,” katanya.
Silvia mengatakan kerusakan bangunan tidak terjadi secara tiba-tiba. Menurutnya, bagian bangunan yang rusak mengalami kerusakan secara perlahan hingga akhirnya membentuk lubang besar. Kondisi tersebut disebut telah berlangsung sekitar tiga tahun.

Siswa Berharap Seluruh Fasilitas Diperbaiki
Kekhawatiran serupa disampaikan Ahmad (12), siswa kelas 6 lainnya.
Menurut Ahmad, kondisi dinding yang telah berlubang membuat siswa merasa khawatir bangunan tersebut mengalami kerusakan lebih parah ketika kegiatan belajar berlangsung.
“Kalau kondisi tembok bolong seperti ini, takut roboh pas kami belajar,” ujar Ahmad.
Ia menyebut kerusakan tidak hanya terjadi pada dinding. Sejumlah bagian lain seperti plafon, lemari dan lantai kelas juga disebut mengalami kerusakan.
Ahmad berharap perbaikan dilakukan secara menyeluruh sehingga siswa dapat mengikuti kegiatan belajar dengan lebih nyaman.
“Harapannya dibenerin semuanya, termasuk fasilitasnya, supaya belajar lebih nyaman,” katanya.
Pernah Ditopang Bambu
Kondisi bangunan tersebut juga menjadi perhatian Iyus Rustandi (60), guru senior yang pernah mengajar di SDN Sukajadi 03 sejak 2005 hingga pensiun pada 2025.
Iyus mengatakan kerusakan bangunan sekolah telah berlangsung cukup lama. Berdasarkan keterangannya, bangunan yang kini mengalami kerusakan tersebut dibangun pada 2009, sementara bangunan sekolah lainnya telah berdiri sejak 2003.
Menurut Iyus, justru bangunan yang lebih baru saat ini mengalami kondisi yang lebih mengkhawatirkan.
“Tapi kalau melihat kondisi, yang paling bahaya justru yang baru ini. Dulu mungkin cara membangunnya semennya kurang, jadi enggak kokoh,” ujarnya.
Ia mengaku pernah menyampaikan usulan agar bagian bangunan yang dinilai rawan mendapatkan perhatian, khususnya area kelas 6.
Namun, menurut Iyus, perbaikan dari dinas terkait belum dilakukan. Bahkan, terdapat bagian bangunan yang sempat ditopang menggunakan bambu untuk mengurangi risiko roboh.
“Fungsinya buat menahan supaya tidak roboh ke bawah,” katanya.
Musim Hujan Jadi Kekhawatiran
Kondisi bangunan tersebut dinilai semakin perlu mendapat perhatian ketika memasuki musim hujan.
Iyus mengkhawatirkan hujan deras yang disertai angin dapat memperburuk bagian bangunan yang telah mengalami kerusakan.
“Itu yang paling ditakutkan. Bagaimana kondisinya nanti kalau hujan deras,” ujar Iyus.
Ia berharap proses rehabilitasi dapat dipercepat demi memberikan rasa aman bagi para siswa dan tenaga pendidik.
“Mudah-mudahan perbaikan bisa dipercepat. Kami hanya ingin menjaga keamanan anak didik supaya mereka bisa belajar dengan aman dan nyaman,” katanya.
Rehabilitasi Direncanakan pada 2027
Sementara itu, Kepala Bidang Sekolah Dasar Dinas Pendidikan Kabupaten Bekasi, Pranoto, menjelaskan bahwa kewenangan pembangunan dan rehabilitasi sekolah berada pada Dinas Cipta Karya dan Tata Ruang.
Menurut Pranoto, Dinas Pendidikan Kabupaten Bekasi sebelumnya telah mengusulkan rehabilitasi SDN Sukajadi 03 melalui APBD 2026.
Namun, setelah dilakukan koordinasi dengan Dinas Cipta Karya dan Tata Ruang, rehabilitasi sekolah tersebut direncanakan dilaksanakan pada 2027.
“Rehabilitasi sekolah tersebut direncanakan dilaksanakan pada 2027,” kata Pranoto.
Ia juga menyampaikan bahwa koordinasi dengan pihak sekolah telah dilakukan melalui koordinator wilayah Kecamatan Sukakarya.
“Kami sudah berkoordinasi melalui koordinator wilayah Kecamatan Sukakarya. Dan kemarin koordinatornya sudah ke lokasi,” ujarnya.
SDN Sukajadi 03 saat ini memiliki 168 siswa yang terbagi dalam enam rombongan belajar. Kegiatan pembelajaran dimulai sekitar pukul 07.00 WIB, setelah sebelumnya siswa mengikuti kegiatan Dhuha sekitar pukul 06.30 WIB.
Jam kepulangan disesuaikan dengan jenjang kelas. Siswa kelas rendah biasanya menyelesaikan kegiatan belajar sekitar pukul 11.00–12.00 WIB, sedangkan siswa kelas tinggi dapat mengikuti pembelajaran hingga sekitar pukul 13.00 WIB.
Selama menunggu rencana rehabilitasi, kegiatan belajar mengajar tetap berjalan di tengah kondisi sejumlah bagian bangunan yang mengalami kerusakan.
Bagi para siswa dan guru, persoalan rehabilitasi bukan sekadar menyangkut tampilan fisik sekolah. Kondisi ruang belajar juga berkaitan dengan rasa aman selama proses pendidikan berlangsung, terutama ketika siswa harus berada di bawah plafon yang rusak, di dekat dinding berlubang, serta pada bagian lantai yang mengalami retakan.
Kini, perhatian tertuju pada realisasi rencana rehabilitasi agar para siswa SDN Sukajadi 03 dapat mengikuti proses belajar dengan kondisi ruang yang lebih aman dan layak. (Red).













