SLEMAN — POSTKEADILAN. Rumah singgah Duchenne Muscular Dystrophy (DMD) Indonesia resmi diresmikan bertepatan dengan peringatan Hari Kesadaran Duchenne Sedunia pada Minggu, 6 September 2026. Berlokasi di Desa Bedingin RT 06 RW 38, Sumberadi, Kecamatan Mlati, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, fasilitas ini hadir untuk membantu pasien dan keluarga yang memerlukan tempat beristirahat saat berobat ke rumah sakit.
Kegiatan peresmian ini diprakarsai oleh Bapak Agus, seorang pria tangguh yang juga merupakan orang tua dari anak dengan diagnosis DMD. Dengan penuh keikhlasan, beliau menghibahkan tempatnya untuk dijadikan rumah singgah atas dasar keinginan kuat agar hidupnya dapat bermanfaat bagi sesama, khususnya para orang tua anak DMD dan masyarakat umum. Dalam pelaksanaannya, inisiatif ini bekerja sama dengan Yayasan Peduli Distrofi Muskular Indonesia yang turut menyediakan fasilitas serta interior rumah singgah.
Acara peresmian ini turut dihadiri dan didukung oleh berbagai tokoh penting. Sambutan pertama disampaikan oleh Ketua Yayasan Peduli Distrofi Muskular Indonesia, Ibu Anik Marwati, M.Pd. Beliau menyampaikan apresiasi mendalam kepada Bapak Agus serta mengenang Almarhum Prof. Narty selaku penggagas berdirinya yayasan. Ia menegaskan komitmen yayasan untuk terus mendampingi perjuangan para orang tua dan pasien DMD hingga ditemukannya obat paten.
Dukungan penuh juga datang dari Rumah Sakit Akademik Universitas Gadjah Mada (RSA UGM) yang diwakili oleh Direktur SDM RSA UGM, Prof. dr. Apt. Ika Puspita Sari, S.Si., M.Si. Dalam sambutannya, beliau memuji langkah Bapak Agus mendirikan rumah singgah perorangan pertama di Yogyakarta ini sebagai teladan bagi pihak lain. Terkait perkembangan medis, beliau menjelaskan bahwa obat untuk DMD di Indonesia sebenarnya sudah ditemukan, namun masih terkendala proses BPOM karena pertimbangan efek samping. Ia mengajak masyarakat untuk mendoakan para peneliti agar segera menemukan pengobatan yang lebih baik dan aman.
Perwakilan dokter spesialis anak dari RSA UGM, dr. Kristy Iskandar, M.Sc., Ph.D., Sp.A.(K), turut memaparkan bahwa penanganan DMD di Indonesia masih dalam tahap penelitian, sementara beberapa negara seperti Amerika Serikat dan Jepang telah menemukan obat untuk jenis exon kromosom tertentu. Meski obat paten di Indonesia belum tersedia, pencegahan penurunan kondisi kesehatan dapat disiasati melalui pengobatan medis dan non-medis seperti fisioterapi guna mempertahankan kondisi tubuh penderita.
Sementara itu, Kodim 0732 Sleman yang diwakili oleh Dandim Letkol Arh Reindy Tri Setyo Nugroho, S.Hub.Int., M.Si., menyampaikan rasa kagumnya yang mendalam terhadap ketabahan para orang tua anak DMD. Menurutnya, perjuangan luar biasa para orang tua dalam menghadapi ujian ini bahkan melampaui beratnya perjuangan di medan tempur. Peresmian rumah singgah ini dinilai baru menjadi awal dari rangkaian perjuangan panjang demi kemaslahatan para pasien di masa depan. (Ida. T)













