Kab. Bekasi, PostKeadilan – Kepala SMKN 1 Tambun Utara (TAMARA), Hoyadi menonaktifkan oknum pegawai Tata Usaha (TU) SMKN 1 TAMARA berinisial D.
Tindak tegas ini pasca video viral di media sosial Tiktok, seorang ibu adukan permasalahannya kepada Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi yang akrab disapa KDM.
Pada video itu, ibu inisial W yang mengaku orang tua murid melaporkan dugaan pungutan liar (pungli) kepada KDM.
Perbincangan dalam video, W sebut mengalami dugaan pungli. Ia dimintai uang sebesar Rp 2,5 juta oleh seorang oknum pegawai TU SMKN 1 TAMARA yakni D.
Tak tanggung-tanggung, W bercerita kepada KDM bahwa uang tersebut buat proses beli bangku sekolah untuk anaknya dapat diterima bersekolah di SMKN 1 TAMARA.
“Ini bukti transfer Rp1,5 juta. Yang (sisa Rp1 juta) lainnya cash,” ujar W sembari memperlihatkan bukti transfer ke KDM.
Uang sudah diberikan, kan tetapi anaknya tidak kunjung masuk sekolah. Hingga akhirnya W adukan permasalahannya kepada KDM.
Tempat terpisah, PostKeadilan konfirmasi Hoyadi. Hoyadi tidak menampik persoalan yang menimpa D.
“Saya sudah meminta klarifikasi dari orangnya. Dia (D) mengakui dan siap bertanggungjawab atas perbuatannya. Maka itu saya bersikap tegas, menonaktifkan demi tidak menggangu jalannya KBM (Kegiatan Belajar Mengajar) di sekolah,” kata Hoyadi di ujung telepon selulernya, Kamis (30/7/2026) siang.
Coba digali apakah D sudah mengembalikan uang yang di terima? Hoyadi menjawab sudah.
“Dia pegawai TU, P3K paruh waktu. Pengakuannya dan sudah saya lihat sendiri, sudah mengembalikan uang tersebut kepada neneknya. Karena uang itu dari nenek si murid, bukan dari ibu itu. Nenek si murid yang minta tolong agar cucunya dapat diterima bersekolah di sekolah kita,” ungkap Kepala SMKN 1 TAMARA ini.
Dan Hoyadi tegas mengatakan, tidak mentolerir adanya pungutan liar di sekolah yang digawanginya.
“Untuk proses lebih lanjut, kami sudah membuat berita acaranya dan sudah kami serahkan ke Dinas Pendidikan,” tutupnya. (Vanaya/Simare)













