Demo Mahasiswa, DPRD Diminta Sampaikan Aspirasi Stabilkan Rupiah Ke DPR RI

Wartawan Penulis oleh: Balas

Bekasi, PostKeadilan – Ratusan Mahasiswa yang tergabung dari beberapa Kampus Se-Bekasi yang mengatasnamakan Badan Aliansi Mahasiswa Peduli Indonesia (AMPI) lakukan demo. Mereka berunjukrasa di Gedung DPRD Kabupaten Bekasi, Pemkab Bekasi, Jumat (21/9/2018).

Mahasiswa tersebut membawa empat tuntutan yaitu, stabilkan nilai tukar terhadap dolar, stop impor bahan pokok, stop TKA tanpa keahlian serta tegaskan kembali perpres Nomor 20 Tahun 2018 mengenai tenaga kerja asing dan segera selesaikan infrastruktur yang mangkrak di Kabupaten Bekasi.

Ratusan Mahasiswa harus tertahan didepan pintu gerbang oleh petugas keamanan Satpol PP dan aparat Kepolisian. Mahasiswa terus berorasi agar mereka bisa ditemukan oleh Wakil Rakyat yaitu DPRD Kabupaten Bekasi, alhasil perwakilan Mahasiswa diterima langsung oleh Ketua DPRD Kabupaten Bekasi, Sunandar dan Wakil DPRD Kabupaten Bekasi, Daris.

Saat hendak berunding di ruang Komisi 1 DPRD Kabupaten Bekasi, salahsatu Mahasiswa menegaskan bahwa mereka menyampaikan aspirasi bersama-sama dan Mahasiswa pun minta agar semua mahasiswa yang ikut Demonstrasi harus ikut berunding dan bisa menyalurkan Aspirasi terhadap Wakil Rakyat pemangku jabatan DPRD Kabupaten Bekasi.

Hingga akhirnya Ketua DPRD Sunandar memperbolehkan mahasiswa yang melakukan aksi tersebut ikut dalam mediasi oleh DPRD.

Sempat putus komunikasi antara petugas keamanan yang tetap menahan Mahasiswa diluar Pagar Pemkab Bekasi, hingga akhirnya saling dorong pun dilakukan dan aparat pun menyemprotkan air dengan kendaraan water canon. Padahal, disitu mahasiswa hendak mau masuk memenuhi permintaan Ketua DPRD Kabupaten Bekasi, Sunandar agar berunding bersama dan akhirnya keributan tersebut bisa diatasi langsung oleh Kapolsek Cikarang Pusat dan langsung memperboleh masuk mahasiswa.

Mediasi tersebut akhirnya dilakukan di Ruang Rapat Paripurna DPRD Kabupaten Bekasi, yang langsung dipimpin oleh Ketua DPRD Kabupaten Bekasi, Sunandar.

Koordinator Lapangan Jaelani Nurseha mengatakan lemahnya rupiah berdampak pada perekonomian yang semakin terpuruk berimbas kepada masyarakat kecil. Kata dia, dimana sebelumnya lemahnya rupiah dan tingginya dollar yakni mencapai Rp15.200,- dan saat ini hanya turun sedikit yakni menjadi Rp14.800,-.

Menurutnya, dari hasil kajian perkumpulan mahasiswa Kabupaten Bekasi. Sangatlah berdampak dan membuat semakin bertambahnya kemiskinan di Indonesia khususnya di Kabupaten Bekasi. Dengan itu, dirinya mendesak kepada DPRD Kabupaten Bekasi untuk segera menyampaikan tuntutan mereka kepemerintahan pusat.

“Kami Ampi mendesak pemerintah pusat untuk menyelesaikan permasalahan bangsa, seperti melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar mencapai Rp14. 800,- sehingga dengan kedatangan kami ke DPRD hari ini dapat menyampaikan tuntutan kami ke DPRD RI, dan lalu disampaikan kepemerintahan pusat,” jelas Jaelani.

Sambung pria yang karib disapa Jay, mengatakan pihaknya mengapresiasi Ketua dan Wakil DPRD Kabupaten Bekasi yang telah menerima pihaknya untuk menyampaikan aspirasi untuk nantinya dapat disampaikan ke DPR RI.

“Tuntutan teman – teman disetujui, bahkan DPRD juga akan menyampaikan tuntutan tersebut kepada Kementrian Keuangan dan Kementrian Perdagangan,” ucapnya

Sementara itu Ketua DPRD Kabupaten Bekasi, Sunandar mengatakan, pihaknya akan menindaklanjuti aspirasi yang disampaikan mahasiswa untuk kepentingan rakyat. Politisi Partai Golkar ini juga berjanji pada Hari Senin mendatang, apa yang sudah diamanahkan kepada pihaknya. sudah bisa sampai ke DPR RI dan Kementrian yang bersangkutan.

“Saya mendukung aspirasi mahasiswa. Kan mahasiswa mempunyai hak berpendapat, Insya Allah hari Senin mendatang langsung kita sampaikan untuk bisa ditindaklanjuti pemerintah pusat,” tutur Sunandar. (Tim)

banner 468x60 banner 468x60

Berlangganan

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.