Sejumlah Netizen Protes Keras Atas Larangan Upacara Keagamaan Hindu Di Bantul

- Penulis

Rabu, 13 November 2019 - 16:45 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Bantul, PostKeadilan – Terkait Intoleransi yang terjadi di Bantul, berbagai masyarakat Netizen protes keras. Pasalnya, sejumlah warga Bantul lakukan aksi larangan upacara Umat Hindu.

Kabar beredar, warga berupaya mengganggu Piodalan, upacara keagamaan umat Hindu di Dusun Mangir Lor, Desa Mangir, Kecamatan Pajangan Bantul, Selasa (12/11/2019).

Piodalan adalah doa leluhur yang mengakar dalam tradisi Hindu Bali.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Piodalan di Mangir Lor digelar untuk memperingati wafatnya Mahalingga Padma Bhuwana Manggir.

Upacara tersebut sedianya digelar selama dua sesi sejak pukul 13.00 WIB sampai pukul 18.00 WIB. Menurut keyakinan umat Hindu, mendoakan leluhur setahun sekali, atau istilahnya haul.

“Upacara ini sudah digelar rutin tujuh kali,” kata Ananda Ranu Kumbolo, anak Utiek Suprapti, pemilik rumah yang dijadikan tempat Odalan.

Baca Juga :  Kementerian PUPR RI Serah Terima Aset Kepada Pemkab Humbahas

Nanda mengatakan upacara dengan berbagai sesaji itu awalnya berjalan dengan baik sejak pukul 13.00 WIB, diisi dengan doa-doa.

Di sela-sela upacara, warga berkumpul di sekitar jalan masuk lokasi dan mencegat tamu-tamu dari berbagai daerah yang datang ke lokasi upacara.

“Ketika ada umat Hindu mau masuk ke tempat kami kendaraan dicegat dan disuruh pulang,” ungkapnya.

Kemudian sekitar pukul 15.00 WIB, datang Kapolsek Pajangan AKP Sri Basariah untuk menyampaikan keberatan warga atas upacara keagamaan tersebut.

Sri Basariah menganggap situasi sudah tidak kondusif. Kapolsek ini meminta panitia acara menyudahi prosesi upacara keagamaan. Permintaan itu dipenuhi panitia.

Menurut Nanda upacara mendoakan leluhur itu sudah rutin digelar dan selalu mengundang tamu dari luar Bantul.

Panitia juga sudah memberitahukan acara tersebut kepada warga, pengurus RT hingga kepolisian.

Baca Juga :  LAPAS KELAS IIB CIAMIS Bekali Binaan Dengan Pengajian Rutin

“Pengurus RT sudah mengizinkan karena tetangga kanan kiri sudah tidak mempersoalkan,” terang Nanda.

Namun, prosedur itu terganjal di meja Kepala Dusun Mangir Lor.

“Alasannya [kepala dusun] ingin mengayomi masyarakat karena banyak warga yang tidak setuju,” bebernya.

Utiek Suprapti mengatakan upaya mengurus izin rumah ibadah selalu ditolak.

Utiek lahir di Dusun Mangir hingga lulus SMA. Ia kemudian pindah ke Bandung Jawa Barat dan kembali lagi ke Dusun Mangir Lor pada 1998. Baginya meski beragama Hindu, banyak saudaranya dan tetangganya yang muslim.

Sejauh ini ia merasa hubungan dengan saudara dan tetangga yang berlainan agama tidak masalah.

“Justru kami saling membantu dan menghormati ketika ada acara.”

Ia heran dengan warga yang menolak Piodalan.

“Saya mohon difasilitasi dan sosialisasi tentang keberadaan kami, sejak sembilan tahun lalu belum pernah difasilitasi pemerintah,” ucap Utiek.

Baca Juga :  Ijin Penambangan PT.Atlasindo Perlu Dikaji Ulang

Menurut dia, sudah empat kali rumahnya didemo sejak rumahnya sering dipakai untuk beribadah pemeluk Hindu.

Menanggapi kejadian itu, ribuan Netizens rame-rame beri komentar. Hampir semua sesalkan dan mengutuk kejadian penolakan itu.

Berawal dari Akun Facebook Susanti Irayanati share Video dan cuitan demikian: Selasa 12 nov 2019 pkl 15.45 kami umat minoritas hindu, buddha dll sedang upacara mendoakan leluhur di maha lingga padma buana Ds Mangir, Pajangan, Bantul (rumah bu utiek) harus bubar krn diminta polsek Pajangan atas desakan 6-10 warga yg tidak setuju ada ibadah di rumah & blm ada ijin. Mengapa kami tidak dilindungi utk beribadah yg cuma setahun sekali? Justru aparat jadi corong segelintir warga membubarkan upacara sembahyang kami.

Cuitan itu pun langsung direspon.. (Hardi/Tim)

Berita Terkait

Kepala SMAN 10 Kota Bekasi: Pengadaan Unit Mobil Sekolah Adalah Inisiatif Komite, Hal Sumbangan Tidak Dipaksakan
Tentang Sumbangan Dari Orang Tua Murid, Ini Penjelasan Kepala SMAN 4 Kota Bekasi
Panen diboikot Puskopad. Kini dipanen Orang Tak diKenal (OTK)
Ini Penjelasan Dirjen GTK Tentang PPPK Honorer
Caleg Demokrat NURAINI Blusukan dan Silahturahmi Ke Posko PP Ranting Margahayu
KCD Wilayah Tiga Jawa Barat Beri Penjelasan Terkait Sejumlah Berita
Para Oknum PPK Pembangunan RPS Pada 2 SMK NEGERI, Akhirnya Ditetapkan Tersangka Dan Langsung Ditahan
Akses Panen ditutup Puskopad TNI Bukit Barisan. Puluhan Warga Ramunia Mendatangi Kantor Gubernur Sumatera Utara
Berita ini 84 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 26 September 2023 - 15:38 WIB

Kepala SMAN 10 Kota Bekasi: Pengadaan Unit Mobil Sekolah Adalah Inisiatif Komite, Hal Sumbangan Tidak Dipaksakan

Senin, 25 September 2023 - 17:40 WIB

Tentang Sumbangan Dari Orang Tua Murid, Ini Penjelasan Kepala SMAN 4 Kota Bekasi

Sabtu, 23 September 2023 - 16:39 WIB

Panen diboikot Puskopad. Kini dipanen Orang Tak diKenal (OTK)

Jumat, 22 September 2023 - 16:54 WIB

Ini Penjelasan Dirjen GTK Tentang PPPK Honorer

Jumat, 22 September 2023 - 13:10 WIB

Caleg Demokrat NURAINI Blusukan dan Silahturahmi Ke Posko PP Ranting Margahayu

Kamis, 21 September 2023 - 18:47 WIB

Para Oknum PPK Pembangunan RPS Pada 2 SMK NEGERI, Akhirnya Ditetapkan Tersangka Dan Langsung Ditahan

Kamis, 21 September 2023 - 17:32 WIB

Akses Panen ditutup Puskopad TNI Bukit Barisan. Puluhan Warga Ramunia Mendatangi Kantor Gubernur Sumatera Utara

Kamis, 21 September 2023 - 00:30 WIB

Warga Ramunia Dilarang (Puskopkar “A” Bukit Barisan) Panen di saat Harga Beras Naik.

Berita Terbaru

Advertorial

Panen diboikot Puskopad. Kini dipanen Orang Tak diKenal (OTK)

Sabtu, 23 Sep 2023 - 16:39 WIB

Headline News

Ini Penjelasan Dirjen GTK Tentang PPPK Honorer

Jumat, 22 Sep 2023 - 16:54 WIB

error: Peringatan: Pemilihan konten dinonaktifkan!!